Selasa, 29 Agustus 2017

Hidrokarbon : Pengertian, Karakteristik, Penggolongan, Keisomeran, Dan Reaksi Senyawa Hidrokarbon

IPA-Area; Hidrokarbon merupakan salah satu materi kimia padam  kelas X semester dua dengan standar kompetensi “Memahami sifat-sifat senyawa organik atas dasar gugus fungsi dan senyawa makromolekul.”, dijabarkan ke dalam dua kompetensi dasar “1). Mendeskripsikan kekhasan atom karbon dalam membentuk senyawa hidrokarbon,2) Menggolongkan senyawa hidrokarbon berdasarkan strukturnya dan hubungannya dengan sifat senyawa, dengan alokasi waktu  sebanyak 10  jam  pelajaran  (5 kali pertemuan).  Materi  ini terdiri  dari  8 indikator yaitu :
  1. Mengidentifikasi unsur C, H, dan O dalam senyawa karbon melalui percobaan
  2. Menjelaskan  kekhasan atom karbon dalam senyawa karbon
  3. Membedakan atom C primer, sekunder, tertier dan kuarterner.
  4. Mengelompokkan  senyawa hidrokarbon berdasarkan kejenuhan ikatan
  5. Memberi nama senyawa alkana, alkena dan alkuna.
  6. Menyimpulkan hubungan titik didih senyawa hidrokarbon dengan massa molekul relatifnya dan strukturnya.
  7. Menentukan  isomer struktur (kerangka, posisi, fungsi) atau isomer geometri (cis, trans)
  8. Menuliskan reaksi sederhana pada senyawa  alkana, alkena, dan alkuna (reaksi oksidasi, reaksi adisi, reaksi substitusi, dan reaksi eliminasi) 

A. Pengertian hidrokarbon
Hidrokarbon merupakan senyawa yang tersusun dari atom hidrogen dan karbon.  Hidrokarbon yang paling sederhana adalah metana (CH4) yang terdiri dari satu atom karbon dan empat atom Hidrogen. 


B. Karakteristik atom karbon
Salah satu kekhasan atom karbon ialah  dapat  membentuk  rantai  karbon. Atom karbon dengan nomor atom 6 mempunyai susunan elektron K = 2 dan L = 4. Dengan demikian, atom C mempunyai 4 elektron valensi dan dapat mernbentuk empat ikatan kovalen yang kuat dengan atom C lainnya, serta dapat berikatan secara kuat dengan atom-atom non logam lainnya pada saat yang bersamaan.

C. Penggolongan hidrokarbon
Senyawa   Hidrokarbon  merupakan  senyawa  yang   hanya   mengandung
senyawa unsur karbon dan Hidrogen (CxHy). Senyawa Hidrokarbon dapat digolongkan berdasrkan struktur molekul dan kejenuhan ikatannya.

a). Penggolongan berdasarkan struktur molekul, dapat berupa rantai karbon terbuka (alifatik), sedangkan rantai tertutup (asiklik) dan rantai tertutup (aromatik) memiliki rantai lingkar
b). Penggolongan berdasarkan kejenuhan ikatan, yaitu:
  • Senyawa Hidrokarbon jenuh mempunyai ciri antara atom C berikatan tunggal (C-C), senyawa yang termasuk dalam kelompok ini, yaitu: senyawa Alkana
  • Senyawa Hidrokarbon tak jenuh mempunyai ciri antara atom C ada yang berikatan rangkap, yaitu ikatan rangkap dua (C=C) atau ikatan rangkap tiga  (C    C).Senyawa yang termasuk kedalam kelompok ini adalah :
    - Golongan alkena : CH2 = CH2 (etena). Alkena merupakan senyawa hidrokarbon tak jenuh yang memiliki ikatan antara atom C berupa ikatan rangkap dua yang meliputi rumus umum : CnH2n
    - Golongan alkuna : CH     CH (etuna). Alkuna merupakan senyawa yang memiliki ikatan rangkap tiga pada struktur molekulnya merupakan senyawa hidrokarbon tak jenuh, memiliki rumus umum : CnH2n-2
    - Golongan aromatik : Benzena merupakan senyawa Hidrokarbon tak jenuh yang memiliki tiga ikatan rangkap dua pada struktur molekulnya.
D. Keisomeran hidrokarbon
Dalam senyawa karbon banyak dijumpai senyawa-senyawa yang mempunyai rumus molekul sama tetapi rumus struktur berbeda. Peristiwa semacam ini disebut isomer atau keisomeran. Keisomeran terdiri atas keisomeran struktur dan keisomeran ruang. Keisomeran struktur, yaitu senyawa karbon yang rumus molekulnya sama tetapi rumus struktur bebeda.

Keisomeran ruang, yaitu senyawa karbon yang memiliki rumus molekul sama, gugus sama tetapi suasana dalam ruang berbeda. Contoh:


E. Reaksi senyawa hidrokarbon
Reaksi senyawa karbon dapat digolongkan ke dalam reaksi oksidasi, subtitusi, adisi dan eliminasi.
1. Reaksi oksidasi (reaksi pembakaran)
Reaksi    oksidasi   pada   senyawa   hidrokarbon   adalah    reaksi   senyawa
Hidrokarbon dengan oksigen atau reaksi pembakaran. Pada reaksi pembakaran sempurna terbentuk gas CO2 dan H2O, sedangkan pada reaksi pembakaran tidak sempurna yang terbentuk adalah gas CO dan H2O.
                               CH4  +  2O2     ------>    CO2 + H2O
2. Reaksi subtitusi
Reaksi subtitusi adalah reaksi penggantian atom-atom atau gugus atom suatu  molekul (senyawa karbon) oleh atom atau gugus yang lain. 

                         CH4 + Cl2    ------>     CH3Cl+ HCl  ( Substitusi radikal)
                                    CH3Cl(g) + Cl2(g)   ------->     CH2Cl2(g) + HCl(g)
3. Reaksi adisi
Pada reaksi adisi molekul senyawa yang berikatan rangkap menerima atom atau gugus atom, sehingga ikatan rangkap berubah menjadi ikatan ikatan tunggal. Adisi Hidrogen pada alkena dan alkuna menghasilkan alkana. Adisi Hidrogen pada etena memerlukan katalis dari serbuk logam Ni atau loam Pt. kedua atom H dan H2 yang putus akan diikat oleh masing-masing atom C pada sisi yang sama dari ikatan rangkap dua.
                            CH2 = CH2  +  H2     ------>       CH3 – CH3
                                   Etena                                  Etana 
4. Reaksi eliminasi 
Reaksi   eliminasi  adalah   reaksi   penghilangan  atau  pengeluaran.
1) Bila H dan Cl keluar dari reaksi maka reaksi eliminasi ini disebut reaksi dehidrohalogenasi.

2) Bila senyawa alkohol kehilangan air dan membentuk alkana maka reaksi ini disebut eliminasi.

Pengertian Dan Jenis - Jenis Ikatan Kimia

IPA-Area; Ikatan Kimia merupakan salah satu materi kimia dikelas X semester awal dengan standar kompetensi a). Memahami struktur atom, b). sifat-sifat periodic unsur,dan ikatan kimia, Sedangkan kompetensi dasarnya  “Membandingkan proses pembentukan ikatan ion, ikatan kovalen, ikatan koordinasi, dan ikatan logam serta hubungannya dengan sifat fisik senyawa yang terbentuk” dengan alokasi waktu sebanyak 8 jam pelajaran (4 kali pertemuan). Materi ini terdiri dari 8 indikator yaitu :

  1. Menjelaskan kecenderungan suatu unsur untuk mencapai kestabilannya
  2. Menggambarkan lambang Lewis unsur gas mulia (duplet dan oktet) dan unsur bukan gas mulia.
  3. Menjelaskan proses terbentuknya ikatan ion
  4. Menjelaskan proses terbentuknya ikatan kovalen tunggal, rangkap dan rangkap tiga.
  5. Menjelaskan proses terbentuknya ikatan kovalen koordinasi
  6. Menyelidiki kepolaran dari beberapa senyawa dan menghubungkannya dengan elektronegatifan unsur-unsur melalui percobaan
  7. Mendeskripsikan proses pembentukan ikatan logam dan hubungannnya dengan sifat fisik logam
  8. Menghubungkan sifat fisis materi dan hubungannnya dengan jenis ikatan kimianya.
Pengertian dan Jenis - Jenis Ikatan Kimia
Pengertian dan Jenis - Jenis Ikatan Kimia

A. Pengertian Ikatan Kimia
Ikatan kimia adalah ikatan yang terjadi antara atom atom yang membentuk suatu molekul. Atom atom yang berikatan bisa berasal dari unsur yang sejenis ataupun berlain jenis.  Sebagai contoh, atom O adalah partikel kecil dari unsur O, atom H adalah partikel kecil dari unsur H, sedangkan H2O adalah partikel terkecil dari senyawa H2O. Di alam, umumnya unsur – unsur cenderung saling berikatan membentuk senyawa, kecuali unsur – unsur gas mulia. Hal ini dilakukan untuk mencapai konfigurasi eletron yang stabil, seperti konvigurasi  eletron gas mulia.

Kestabilan unsur
Dibandingkan dengan unsur-unsur lain, unsur gas mulia merupakan unsur yang paling stabil. Kestabilan ini disebabkan karena susunan elektronnya berjumlah 8 elektron di kulit terluar, kecuali helium (mempunyai konfigurasi elektron penuh). Hal ini dikenal dengan konfigurasi oktet, kecuali helium dengan konfigurasi duplet.

Pengertian dan Jenis - Jenis Ikatan Kimia
Tabel  Konfigurasi unsur gas mulia 
Unsur-unsur lain dapat mencapai konfigurasi oktet dengan membentuk ikatan agar dapat menyamakan konfigurasi elektronnya dengan konfigurasi elektron gas mulia terdekat. Kecenderungan ini disebut aturan oktet. Konfigurasi oktet (konfigurasi stabil gas mulia) dapat dicapai dengan melepas, menangkap, atau memasangkan elektron. Dalam mempelajari materi ikatan kimia ini, kita juga perlu memahami terlebih dahulu tentang lambang Lewis. Lambang Lewis adalah lambang atom disertai elektron valensinya. Elektron dalam lambang Lewis dapat dinyatakan dalam titik atau silang kecil (James E. Brady, 1990).

B. Jenis - Jenis Ikatan Kimia

1. Ikatan ion
Ikatan ion adalah ikatan yang terjadi akibat perpindahan elektron dari satu atom ke atom lain (James E. Brady, 1990). Ikatan ion terbentuk antara atom yang melepaskan elektron (logam) dengan atom yang menangkap elektron (bukan logam). Atom logam, setelah melepaskan elektron berubah menjadi ion positif. Sedangkan atom bukan logam, setelah menerima elektron berubah menjadi ion negatif. Antara ion-ion yang berlawanan muatan ini terjadi tarik-menarik (gaya elektrostastis) yang disebut ikatan ion (ikatan elektrovalen). Ikatan ion merupakan ikatan yang relatif kuat. Pada suhu kamar, semua senyawa ion berupa zat padat kristal dengan struktur tertentu. Dengan mengunakan lambang Lewis, pembentukan NaCl digambarkan sebagai berikut. NaCl mempunyai struktur yang berbentuk kubus, di mana tiap ion Na+ dikelilingi oleh 6 ion Cl- dan tiap ion Cl- dikelilingi oleh 6 ion Na+. Senyawa ion dapat diketahui dari beberapa sifatnya, antara lain:
  • Merupakan zat padat dengan titik leleh dan titik didih yang relatif tinggi. Sebagai contoh, NaCl meleleh pada 801 °C.
  • Rapuh, sehingga hancur jika dipukul.
  • Lelehannya menghantarkan listrik.
  • Larutannya dalam air dapat menghantarkan listrik.
Contoh lain pembentukan ikatan ion adalah Pembentukan MgCl2. Mg (Z = 12) dan Cl (Z = 17) mempunyai konfigurasi elektron sebagai berikut :
Mg : 2, 8, 2
Cl   : 2, 8, 7
Mg dapat mencapai konfigurasi gas mulia dengan melepas 2 elektron, sedangkan Cl dengan menangkap 1 elektron. Atom Mg berubah menjadi Mg2+, sedangkan atom Cl menjadi  Cl-. Ion Mg2+ dan ion Cl- kemudian bergabung membentuk senyawa dengan rumus MgCl2.
Pengertian dan Jenis - Jenis Ikatan Kimia
Gambar  Senyawa MgCl2
2. Ikatan Kovalen
Ikatan kovalen adalah ikatan yang terjadi akibat pemakaian pasangan electron secara bersama-sama oleh dua atom (James E. Brady, 1990). Ikatan kovalen terbentuk di antara dua atom yang sama-sama ingin menangkap elektron (sesame atom bukan logam).Cara atom-atom saling mengikat dalam suatu molekul dinyatakan oleh rumus bangun atau rumus struktur. Rumus struktur diperoleh dari rumus Lewis dengan mengganti setiap pasangan elektron ikatan dengan sepotong garis. Misalnya, rumus bangun H2 adalah H – H. Sebagai contoh  Ikatan antara atom H dan atom Cl dalam HCl. Konfigurasi elektron H dan Cl adalah:
H : 1 (memerlukan 1 elektron)
Cl : 2, 8, 7 (memerlukan 1 elektron)
Masing-masing atom H dan Cl memerlukan 1 elektron, jadi 1 atom H akan berpasangan dengan 1 atom Cl. Lambang Lewis ikatan H dengan Cl dalam HCl
Pengertian dan Jenis - Jenis Ikatan Kimia
Gambar  Senyawa HCl
Pengecualian dan kegagalan aturan oktet
Walaupun aturan oktet banyak membantu dalam meramalkan rumus kimia senyawa biner sederhana, akan tetapi aturan itu ternyata banyak dilanggar dan gagal dalam meramalkan rumus kimia senyawa dari unsur-unsur transisi dan postransisi.

a. Pengecualian aturan oktet
Pengecualian aturan oktet dapat dibagi dalam tiga kelompok sebagai berikut.
  • Senyawa yang tidak mencapai aturan oktet. Senyawa yang atom pusatnya mempunyai elektron valensi kurang dari 4 termasuk dalam kelompok ini. Hal ini menyebabkan setelah semua elektron valensinya dipasangkan tetap belum mencapai oktet. Contohnya adalah BeCl2, BCl3, dan AlBr3.
  • Senyawa dengan jumlah elektron valensi ganjil. Contohnya adalah NO2, yang mempunyai elektron valensi (5 + 6 + 6) = 17. Kemungkinan rumus Lewis untuk NO2 sebagai berikut.
  • Senyawa yang melampaui aturan oktet. Ini terjadi pada unsur-unsur periode 3 atau lebih yang dapat menampung lebih dari 8 elektron pada kulit terluarnya (ingat, kulit M dapat menampung hingga 18 elektron). Beberapa contoh adalah PCl5, SF6, ClF3, IF7, dan SbCl5.
b. Kegagalan aturan oktet
Aturan oktet gagal meramalkan rumus kimia senyawa dari unsur transisi maupun postransisi. Unsur postransisi adalah unsur logam setelah unsur transisi, misalnya Ga, Sn, dan Bi. Sn mempunyai 4 elektron valensi, tetapi senyawanya lebih banyak dengan tingkat oksidasi +2. Begitu juga Bi yang mempunyai 5 elektron valensi, tetapi senyawanya lebih banyak dengan tingkat oksidasi +1 dan +3. Pada umumnya, unsur transisi maupun unsur postransisi tidak memenuhi aturan oktet.

3. Ikatan logam
Ikatan elektron-elektron valensi dalam atom logam bukanlah ikatan ion, juga bukan ikatan kovalen sederhana. Suatu logam terdiri dari suatu kisi ketat dari ionion positif dan di sekitarnya terdapat lautan (atmosfer) elektron-elektron valensi. Elektron valensi ini terbatas pada permukaan-permukaan energi tertentu, namun mempunyai cukup kebebasan, sehingga elektron-elektron ini tidak terus-menerus digunakan bersama oleh dua ion yang sama. Bila diberikan energi, elektron-elektron ini mudah dioperkan dari atom ke atom. Sistem ikatan ini unik bagi logam dan dikenal sebagai ikatan logam.

Sumber:
Brady, James E. (1990). General Chemistry, 5th Edition, John Wiley & Sons, New York

Minggu, 20 Agustus 2017

Materi Biologi Kelas XI Tentang Histologi Tumbuhan

IPA-Area; Pelajaran biologi adalah salah satu pelajaran yang memiliki cakupan ilmu yang luas. pelajaran biologi sudah di pelajari sejak Sekolah dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Biologi erat kaitannya dalam kehidupan sehari hari. nah, kali ini akan dibahas secara tuntas tentang Materi Biologi Kelas XI Tentang Histologi Tumbuhan. Semoga bermanfaat

A. Jaringan Tumbuhan
Pada organisme bersel banyak, sel-sel berkelompok untuk membentuk jaringan, yang berfungsi menjalankan tugas-tugas khusus tertentu. Gabus yang menyusun kulit kayu dan akar tumbuh-tumbuhan yang banyak batang kayunya adalah sebuah jaringan. Ia melindungi lapisan dalam terhadap cedera dan ia menghalangi penguapan yang berlebihan. Jaringan tumbuhan dibedakan menjadi 2, yaitu: jaringan meristem dan jaringan permanen.

Materi Biologi Kelas XI Tentang Histologi Tumbuhan

1. Jaringan Meristem
Pada tumbuhan terdapat jaringan yang selalu membelah, jaringan tersebut disebut sebagai jaringan meristem.
Berdasarkan cara terbentuknya, jaringan meristem dibedakan menjadi 3, yaitu:
  • Promeristem, sudah ada waktu tumbuhan dalam masa embrional.
  • Meristem primer, masih bersifat membelah diri, terdapat pada tumbuhan dewasa di ujung batang, ujung akar, kuncup.
  • Meristem sekunder, berasal dari meristem primer.
Menurut letaknya meristem dibedakan menjadi:
  • Meristem apikal.
  • Meristem lateral, yaitu kambium vaskuler dan felogen.
  • Meristem interkalar, yaitu pada ruas tumbuhan monokotil.

2. Jaringan Permanen
Sel-sel meristem, baik primer maupun sekunder akan berdiferensiasi menjadi jaringan permanen. Jaringan permanen tidak tumbuh dan memperbanyak diri lagi. Menurut fungsinya jaringan permanen dibagi menjadi:

a. Jaringan epidermis (jaringan pelindung)
Jaringan terluar yang menutupi seluruh permukaan tubuh tumbuhan, seperti akar, batang, daun, bunga, buah, dan biji dinamakan jaringan epidermis.

Ciri-ciri epidermis:
Bentuk sel seperti balok, biasanya terdiri dari satu lapisan terletak pada lapisan paling luar, tidak berklorofil kecuali pada sel penjaga (guard cell) stomata.

Fungsi epidermis yaitu untuk melindungi jaringan lainnya.

b. Jaringan parenkim (jaringan dasar)
Jaringan parenkim merupakan jaringan yang terbentuk dari meristem dasar.

Ciri-ciri parenkim:
Susunan sel tidak rapat, tidak selalu berkloroplas, terdiri dari sel-sel hidup,banyak vakuola, ukuran sel besar, dinding sel tipis, banyak rongga-rongga antarsel.

Menurut fungsinya, jaringan parenkim dibedakan menjadi:
  • Parenkim fotosintesis, yaitu parenkim palisade (jaringan tiang) dan parenkim bunga karang (jaringan spons).
  • Parenkim penyimpan bahan makanan. 
  • Parenkim penyimpan air. 
  • Parenkim penyimpan udara. 
  • Parenkim transportasi.

Menurut bentuknya, jaringan parenkim dibedakan menjadi:
  • Parenkim palisade, bentuk memanjang, tegak.
  • Parenkim bunga karang, bentuk seperti bunga karang. 
  • Parenkim bintang, bentuk seperti bintang dengan ujung saling berhubungan. 
  • Parenkim lipatan, dinding sel melipat ke dalam.

c. Jaringan penyokong (jaringan penunjang)
Untuk penunjang tanaman agar dapat berdiri dengan kokoh dan kuat, di dalam tumbuhan terdapat jaringan yang disebut jaringan penyokong. Jaringan penyokong terdiri dari:

1) Jaringan kolenkim
Merupakan jaringan yang dindingnya mengalami penebalan dari selulosa dan pektin terutama di bagian sudut-sudutnya. Banyak terdapat pada tumbuhan yang masih muda, yang belum berkayu, merupakan sel hidup.

2) Jaringan sklerenkim
Merupakan jaringan yang sel-selnya mengalami penebalan dari lignin (zat kayu), sel-selnya sudah mati. Menurut bentuknya, sklerenkim dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:
  • Skelereid (sel batu): selnya mati, bentuk bulat, dan berdinding keras sehingga tahan tekanan. Contoh : sel-sel tempurung kenari dan tempurung kelapa. 
  • Serabut-serabut sklerenkim (serat): selnya dengan bentuk panjang, umumnya terdapat pada permukaan batang.

d. Jaringan pengangkut
Untuk mengangkut hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tumbuhan serta mengangkut air dan garam-garam mineral dari akar ke daun, tumbuhan menggunakan jaringan pengangkut. Jaringan pengangkut terdiri dari:
  • Xilem (pembuluh kayu)

Xilem disusun oleh trakeid, trakea, pembuluh xilem (pembuluh kayu), parenkim kayu, dan sklerenkim kayu (serabut kayu). Xilem berfungsi untuk mengangkut air dan garam mineral dan dari dalam tanah menuju ke  daun.
  • Floem (pembuluh tapis)

Floem disusun oleh  sel ayakan atau tapis, pembuluh  tapis, sel pengiring, sel parenkim kulit kayu, dan serabut kulit kayu (sel sklerenkim). Floem berfungsi untuk mengangkut zat-zat hasil fotosintesis ke seluruh bagian tubuh. Xilem dan floem bersatu membentuk suatu ikatan pembuluh angkut. Macam-macam ikatan pembuluh angkut.
1) Ikatan pembuluh kolateral, xilem dan floem yang letaknya bersebelahan di dalam suatu jari-jari (xilem di sebelah dalam dan floem di sebelah luar).
  • Kolateral terbuka, antara xilem dan floem terdapat kambium. Misalnya pada batang tumbuhan dikotil.
  • Kolateral tertutup, antara xilem dan floem tidak terdapat kambium. Misalnya pada batang tumbuhan monokotil.

2) Ikatan pembuluh bikolateral, xilem diapit floem, terletak pada radius yang sama.
3) Ikatan pembuluh radial, xilem dan floem letaknya bersebelahan, tetapi tidak berada di dalam jari-jari yang sama, misalnya pada akar.
4) Ikatan pembuluh konsentris, xilem dan floem berbentuk cincin silindris.
  • Amfikribal, letak xilem di tengah dan dikelilingi floem. 
  • Amfivasal, letak floem di tengah dan dikelilingi xilem.


 B. Organ Tumbuhan
Organ pada tumbuhan terdiri dari akar, batang, daun, bunga dan buah termasuk biji.

1. Akar
a. Fungsi akar
Fungsi akar, yaitu:
1) Menyerap air dan hara tanah.
2) Memperkokoh berdirinya batang.
3) Menyimpan cadangan makanan.
4) Alat perkembangbiakan vegetatif.
5) Tempat melekatkan tubuh tumbuhan pada tanah atau substrat tempatnya.

b. Sistem perakaran
Sistem perakaran pada tanaman ada 3, yaitu:
1) Sistem perakaran tunggang, terdiri atas sebuah akar besar dengan beberapa cabang dan ranting akar. Akar berasal dari perkembangan akar primer biji yang berkecambah. Perakaran tunggang terdapat pada tumbuhan dikotil.
2) Sistem perakaran serabut, terdiri atas sejumlah akar kecil, ramping yang ke semuanya memiliki ukuran sama. Sistem perakaran serabut terbentuk pada waktu akar primer membentuk cabang sebanyakbanyaknya,
cabang tidak menjadi besar, dan akar primer selanjutnymengecil, tipe perakaran serabut terdapat pada akar tanaman monokotil.
3) Sistem perakaran adventif, merupakan akar yang tumbuh dari setiap bagian tubuh tanaman dan bukan akar primer. Misalnya akar yang keluar dari umbi batang, akar yang keluar dari batang (cangkokan).

c. Struktur akar
Struktur akar dari luar ke dalam adalah sebagai berikut:

1) Epidermis
Terdiri atas selapis sel dan tersusun rapat tanpa rongga antarsel. Sel epidermis berdinding tipis. Sel-sel epidermis yang dekat ujung akar mempunyai beberapa bulu akar untuk memperluas bidang penyerapan. Epidermis berfungsi sebagai pelindung dan penerus air ke bagian dalam akar.

2) Korteks
Terdiri atas beberapa lapis sel berdinding tipis dan tidak banyak ruang antarsel yang berguna untuk pertukaran zat, juga sebagai tempat cadangan makanan.

3) Endodermis
Terdiri atas selapis sel, kebanyakan sel-selnya berdinding tebal dengan berlapiskan zat gabus. Endodermis mengatur masuk keluarnya bahan ke dan dari akar.

4) Stele (silinder pusat)
Terdiri dari perisikel, xilem, dan floem. Stele terletak di sebelah dalam endodermis. Pada akar monokotil antara xilem dan floem tidak terdapat kambium, sedangkan pada akar dikotil antara xilem dan floem terdapat
kambium, letak xilem dan floem berselang-seling menurut arah jari-jari.

Lapisan paling tepi dari silinder pusat disebut perisikel atau perikambium. Akar pada berbagai golongan tumbuhan mempunyai ciri khas seperti dalam Tabel 2.1 berikut


2. Batang
a. Fungsi batang
Fungsi batang, yaitu:
1) Alat transportasi zat makanan dari akar ke daun, dan hasil asimilasi dari daun ke seluruh bagian tumbuhan
2) Alat perkembangbiakan vegetatif
3) Menyimpan cadangan makanan
4) Tempat tumbuhnya daun, cabang dan bunga

b. Struktur batang
Struktur batang dari luar ke dalam sebagai berikut:
1) Epidermis
Terdiri atas selapis sel yang tersusun rapat dan tidak mempunyai ruang antarsel. Epidermis yang terdapat di atas permukaan sering dilapisi kutikula.

Jika pada batang terjadi pertumbuhan sekunder, epidermis akan pecah dan terbentuk lapisan gabus yang sering kali juga pecah sehingga membentuk lentisel.

2) Korteks
Sel-selnya tidak tersusun rapat sehingga banyak ruang antarsel yang penting untuk pertukaran gas.

3) Endodermis
Tersusun atas selapis sel yang mempunyai bentuk khas. Pada Angiospermae sel-sel endodermis mengandung banyak tepung yang sering disebut sebagai sarung tepung.

4) Stele (silinder pusat)
Di dalam stele terdapat jaringan partikel empulur, dan pembuluh angkut.

Batang  pada berbagai golongan tumbuhan mempunyai ciri khas seperti dalam Tabel 2.2 berikut.


3. Daun
a. Fungsi daun
Fungsi daun, yaitu:
1) Tempat berlangsungnya fotosintesis
2) Tempat menyimpan bahan makanan
3) Pada tumbuhan tertentu sebagai alat perkembangan vegetatif
4) Alat evaporasi (penguapan)
5) Respirasi (melalui stomata)
6) Menyerap energi cahaya matahari

b. Struktur daun
Struktur anatomi daun adalah sebagai berikut:
1) Epidermis
Epidermis daun tertutup oleh lapisan kutikula yang berfungsi untuk mencegah terjadinya penguapan yang terlalu besar. Pada epidermis terdapat stomata atau mulut daun yang berfungsi untuk melaksanakan fungsi pertukaran gas.

2) Mesofil
Mesofil terdiri atas jaringan palisade yang mempunyai banyak kloroplas dan jaringan bunga karang.

3) Ikatan pembuluh
Ikatan pembuluh daun membentuk tulang daun. Tulang daun terdiri atas xilem dan floem. Ikatan pembuluh akan berakhir di ujung daun berupa celah kecil yang disebut hidatoda. Daun pada berbagai golongan tumbuhan mempunyai ciri khas seperti dalam Tabel 2.3 berikut.


4. Bunga
a. Fungsi bunga
Fungsi bunga, yaitu: Sebagai alat pembentuk sel kelamin.


b. Pembagian bunga
Bunga dapat dibagi menjadi:
1) Bunga lengkap adalah bunga yang memiliki perhiasan bunga dan alat pembiak.

a) Perhiasan bunga, terdiri dari :
Periantum yang terdiri dari: calyx (kelopak bunga), corolla (mahkota bunga). Perigonium yaitu bunga yang memiliki calyx dan corolla dengan warna yang sama.
b) Alat pembiak, terdiri dari:
  • Pistilum (putik) alat pembiak betina, karena membentukcovum.
  • Stamen (benang sari) alat pembiak jantan, karena menghasilkan sperma.

2) Bunga tidak lengkap adalah bunga yang tidak mempunyai perhiasan bunga atau alat pembiak,  dapat dibedakan menjadi:
a) Bunga telanjang yaitu bunga yang tidak memiliki perhiasan bunga.
b) Bunga mandul yaitu bunga yang tidak mempunyai alat pembiak.

Berdasarkan kelengkapan alat pembiak, bunga dibagi menjadi:
1) Bunga biseksualis: bunga hermafrodit/bunga sempurna: bunga yang mempunyai benang sari dan putik.
2) Bunga uniseksualis: bunga yang mempunyai benang sari saja atau mempunyai putik saja. Dibagi menjadi:
  • Berumah satu (monoesius) bunga jantan dan bunga betina terdapat pada satu tumbuhan. 
  • Berumah dua (dioesius) bunga jantan dan bunga betina tidak terdapat dalam satu tumbuhan.

3) Bunga jantan: bunga yang hanya mempunyai benang sari saja.
4) Bunga betina: bunga yang hanya mempunyai putik saja.

5. Buah
Melekatnya serbuk sari di atas kepala putik → penyerbukan →pembuahan → bakal buah dan biji berkembang menjadi buah. Biji yang mengandung embrio/lembaga berfungsi sebagai alat perkembangbiakan bagi tumbuhan.

Macam-macam buah adalah:
  • Buah tunggal: buah yang dibentuk oleh hanya satu bakal buah, contoh: buah mangga dan pepaya. 
  • Buah agregat: buah yang dibentuk oleh banyak bakal buah dari satu bunga, contoh: buah murbai. 
  • Buah majemuk (buah berganda): buah yang dibentuk oleh banyak bakal buah dari banyak bunga, contoh: buah nanas, nangka dan keluwih.

C.Teknologi Kultur Jaringan

1. Sifat Totipotensi pada Tumbuhan
Sel tumbuhan mempunyai kemampuan untuk tumbuh menjadi tanaman yang sempurna bila diletakkan dalam lingkungan yang sesuai. Kemampuan semacam itu dinamakan totipotensi. Totipotensi dikembangkan sebagai dasar dalam pengembangan tumbuhan secara invitro atau kultur jaringan. 

Menurut Suryowinoto (1991) kultur berarti budidaya dan jaringan adalah sekelompok sel yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama karena itu kultur jaringan berarti membudidayakan suatu jaringan tanaman menjadi tanaman baru yang mempunyai sifat seperti induknya. 

Sedangkan budidaya tanaman yang dilaksanakan dalam suatu wadah (kontainer) atau botol-botol dengan media khusus dan alat-alat serba steril dinamakan invitro. Tanaman-tanaman yang direkayasa reproduksi melalui kultur jaringan umumnya tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi seperti anggrek, tembakau, karet, cokelat dan kopi.

2. Beberapa Teknik Kultur Jaringan
a. Meristem culture, budidaya jaringan dengan menggunakan eksplan dari jaringan muda atau meristem.
b. Pollen  culture/anther  culture, menggunakan eksplan dari pollen atau benang sari.
c. Protoplas culture, menggunakan eksplan dari protoplas.
d. Chloroplas culture, menggunakan kloroplas untuk keperluan fusi protoplas.
e. Somatic cross (bilangan protoplas/fusi protoplas), menyilangkan dua macam protoplas, kemudian dibudidayakan hingga menjadi tanaman kecil yang mempunyai sifat baru.

3. Manfaat Teknik Kultur Jaringan
Beberapa manfaat teknik kultur jaringan adalah sebagai berikut:
a. Untuk menghasilkan tanaman baru dalam jumlah besar dalam waktu singkat dengan sifat dan kualitas sama dengan induknya.
b. Mendapatkan tanaman yang bebas dari virus dan penyakit.
c. Menciptakan varietas baru, yaitu dengan cara menggabungkan plasma dari sel-sel yang berbeda dalam satu spesies lalu menumbuhkannya melalui kultur jaringan.
d. Melestarikan jenis tanaman yang hampir punah.
e. Mempertahankan keaslian sifat-sifat tanaman.

Demikian Materi Biologi Kelas XI Tentang Histologi Tumbuhan. Semoga bermanfaat.

Sumber:
Suwarno. (2009). Panduan Belajar Biologi SMA Kelas XI. Jakarta: Pusat Perbukuan

Kamis, 10 Agustus 2017

Materi Fisika SMA Kelas X tentang Vektor

IPA-Area; Pernahkah Anda mengarungi lautan menggunakan perahu layar? Ketika perahu layar mencoba untuk bergerak lurus, tiba-tiba angin dan ombak lautan menghambat perjalanan sehingga Anda tidak dapat mencapai tujuan dengan tepat. Untuk dapat sampai di tempat tujuan, Anda harus mengubah arah pergerakan perahu layar Anda dan memperkirakan arah gerak angin dan ombak tersebut.

Begitu pun jika Anda berenang di sungai yang memiliki aliran yang kuat,Anda perlu berjuang melawan arus aliran sungai agar dapat mencapai tujuan yang Anda inginkan. Besarnya kecepatan arus aliran sungai dapat menentukan seberapa jauh penyimpangan Anda ketika berenang. Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Semua yang Anda alami tersebut berhubungan dengan vektor. Untuk lebih memahami materi mengenai vektor, pelajarilah bahasan-bahasan berikut ini dengan saksama.

Materi Fisika SMA Kelas X tentang Vektor

Ketika seseorang bertanya di mana letak sekolah Anda dari tempat Anda berada saat itu, apa jawaban Anda? Cukupkah dengan menjawab, "Sekolah saya berjarak 2 km dari sini?". Tentu saja jawaban Anda belum lengkap. Tempat yang berjarak 2 km dari posisi Anda sangatlah banyak, bisa ke arah timur, barat, selatan, atas, dan bahkan ke bawah. Oleh karena itu wajar jika orang tadi melanjutkan pertanyaannya sebagai berikut "ke arah mana?". Jawaban yang dapat menyatakan letak atau posisi sekolah Anda secara tepat adalah "Sekolah saya berjarak 2 km dari Jogja ke timur". Pernyataan ini memperlihatkan bahwa untuk menunjukkan posisi suatu tempat secara tepat, memerlukan data jarak (nilai besaran) dan arah. Besaran yang memiliki nilai dan arah disebut besaran vektor.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak peristiwa yang berkaitan dengan besaran vektor. Ketika Anda naik sebuah perahu di sungai Musi, Anda pasti menginginkan arahnya tegak lurus terhadap arus sungai. Arah gerak perahu tidak akan lurus tiba di seberang, melainkan bergeser searah gerak aliran air.

A. Definisi, Gambar, dan Notasi Vektor

Seperti telah disinggung sebelumnya, besaran vektor adalah besaran yang memiliki nilai dan arah. Dalam ilmu Fisika, banyak besaran yang termasuk vektor, di antaranya perpindahan, gaya, kecepatan, percepatan, dan momentum. Selain besaran vektor, ada juga besaran yang hanya memiliki nilai. Besaran seperti ini disebut besaran skalar. Besaran yang termasuk besaran skalar, di antaranya massa, waktu, kuat arus, usaha, energi, dan suhu.
Sebuah vektor digambarkan oleh sebuah anak panah. Panjang anak panah mewakili besar atau nilai vektor, sedangkan arah anak panah mewakili arah vektor. Notasi atau simbol sebuah vektor dapat menggunakan satu atau dua huruf dengan tanda panah di atasnya, misalnya A atau AB . Akan tetapi, dalam buku ini, vektor digambarkan oleh sebuah huruf yang dicetak tebal dan miring, misalnya A atau B. Gambar 2.1 menunjukkan gambar beberapa vektor dengan notasinya. Titik A disebut titik pangkal vektor dan titik B disebut ujung vektor.

Besar sebuah vektor dapat ditulis dengan beberapa cara, di antaranya
dengan memberi tanda mutlak (||) atau dicetak miring tanpa ditebalkan. Sebagai contoh, besar vektor A ditulis |A|atau A dan besar vektor B ditulis |B|atau B. Arah sebuah vektor dinyatakan oleh sudut tertentu terhadap arah acuan tertentu. Umumnya, sudut yang menyatakan arah sebuah vektor dinyatakan terhadap sumbu-x positif. Gambar 2.2 memperlihatkan tiga buah vektor A, B, dan C dengan arah masing-masing membentuk sudut 45°, 90°, dan 225° terhadap sumbu-x positif.

B. Penjumlahan Vektor Menggunakan Metode Grafis dan Analitis
Pernahkah Anda membayangkan jika Anda berenang di sungai searah dengan aliran sungai, kemudian Anda tiba-tiba berbalik arah 90° dari arah pergerakan semula? Apakah posisi terakhir Anda tepat sesuai keinginan
Anda? Tentu tidak, arah akhir posisi Anda tidak akan membentuk sudut 90° dari posisi semula karena terdapat hambatan arus sungai yang membuat arah gerak Anda tidak tepat atau menyimpang. Anda dapat menentukan posisi akhir Anda dengan cara menjumlahkan vektor gerak Anda, baik perpindahannya maupun kecepatannya. Apakah Anda mengetahui cara menjumlahkan dua buah vektor?

Penjumlahan vektor tidak sama dengan penjumlahan skalar. Hal ini karena vektor selain memiliki nilai, juga memiliki arah. Vektor yang diperoleh dari hasil penjumlahan beberapa vektor disebut vektor resultan. Berikut ini akan dibahas metode-metode untuk menentukan vektor resultan.

1. Resultan Dua Vektor Sejajar
Misalnya, Anda bepergian mengelilingi kota Palu dengan mengendarai sepeda motor. Dua jam pertama, Anda bergerak lurus ke timur dan menempuh jarak sejauh 50 km. Setelah istirahat secukupnya, Anda kembali melanjutkan perjalanan lurus ke timur sejauh 30 km lagi. Di lihat dari posisi asal, Anda telah berpindah sejauh sejauh 50 km + 30 km = 80 km ke timur. Dikatakan, resultan perpindahan Anda adalah 80 km ke timur. Secara grafis, perpindahan Anda seperti diperlihatkan pada Gambar 2.3.
Sedikit berbeda dengan kasus tersebut, misalnya setelah menempuh jarak lurus 50 km ke timur, Anda kembali lagi ke barat sejauh 30 km. Relatif terhadap titik asal, perpindahan Anda menjadi 50 km – 30 km = 20 km ke timur. Secara grafis, perpindahan Anda diperlihatkan pada Gambar 2.4.
Dari kedua contoh, seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.3 dan Gambar 2.4, menjumlahkan dua buah vektor sejajar mirip dengan menjumlahkan aljabar biasa. Secara matematis, resultan dua buah vektor sejajar, yakni, sebagai berikut. Jika vektor A dan B searah, besar vektor resultan R, adalah 
dengan arah vektor R sama dengan arah vektor A dan B. Sebaliknya, jika kedua vektor tersebut berlawanan, besar resultannya adalah
dengan arah vektor R sama dengan arah vektor yang terbesar.

2. Resultan Dua Vektor yang Saling Tegak Lurus
Misalnya, Anda memacu kendaraan Anda lurus ke timur sejauh 40 km dan kemudian berbelok tegak lurus menuju utara sejauh 30 km. Secara grafis, perpindahan Anda seperti diperlihatkan pada Gambar 2.5. Besar resultan perpindahannya, r,  diperoleh menggunakan Dalil Pythagoras, yakni sebagai berikut
dan arahnya
terhadap sumbu-x positif (atau 37° dari arah timur).

Dari contoh kasus tersebut, jika dua buah vektor, A dan B, yang salingtegak lurus akan menghasilkan vektor resultan, R, yang besarnya
terhadap arah vektor A dengan catatan vektor B searah sumbu-y dan vektor A searah sumbu-x.

3. Resultan Dua Vektor yang Mengapit Sudut
Sekarang tinjau dua buah vektor, A dan B, yang satu sama lain mengapit sudut seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.6 (a). Gambar vektor resultannya dapat diperoleh dengan cara menempatkan pangkal vektor B di ujung vektor A. Selanjutnya, tarik garis dari titik pangkal vektor A ke titik ujung vektor B dan buatkan panah tepat di ujung yang berimpit dengan ujung vektor B. Vektor inilah, R, resultan dari vektor A dan B. Hasilnya seperti diperlihatkan pada Gambar 2.6 (b).
Besar vektor resultan, R, dapat ditentukan secara analitis sebagai berikut. Perhatikan Gambar 2.7. Vektor C dan D diberikan sebagai alat bantu sehingga vektor A + C tegak lurus vektor D dan ketiganya membentuk resultan yang sama dengan resultan dari vektor A dan B, yakni R . Dengan menggunakan Dalil Pythagoras, besarnya vektor resultan R adalah
Selanjutnya, juga dengan menggunakan Dalil Pythagoras, dari gambar diperoleh
dan dari trigonometri,
Dengan memasukkan dua persamaan terakhir ke persamaan pertama, diperoleh besarnya vektor resultan R.

4. Selisih Dua Vektor yang Mengapit Sudut
Vektor A dan vektor -A, memiliki besar yang sama, yakni |A| = |–A| = A, tetapi arahnya berlawanan seperti diperlihatkan pada Gambar 2.8. Selisih dari dua buah vektor, misalnya vektor A – B, secara grafis sama dengan jumlah antara vektor A dan vektor –B, seperti diperlihatkan pada Gambar 2.9. Secara matematis, vektor selisihnya ditulis R = A – B. 


Secara analitis, besar vektor selisihnya ditentukan dari Persamaan (2–5) dengan mengganti θ  dengan 180 – θ. Oleh karena, cos (180° – θ) = –cos θ sehingga diperoleh 

5. Melukis Resultan Beberapa Vektor dengan Metode Poligon
Jika terdapat tiga buah vektor, A, B, dan C, yang besar dan arahnyaberbeda seperti diperlihatkan pada Gambar 2.10 (a), resultannya dapat diperoleh dengan cara menggunakan metode poligon, yakni sebagai berikut.
  • Hubungkan titik tangkap vektor B pada ujung vektor A dan titik pangkal vektor C pada ujung vektor B.
  • Buat vektor resultan, R, dengan titik tangkap sama dengan titik pangkal vektor A dan ujung panahnya tepat di titik ujung vektor C. Hasilnya seperti diperlihatkan pada Gambar 2.10 (b).

Secara matematis, vektor resultan pada Gambar 2.10 ditulis sebagai berikut.

R = A + B + C

6. Vektor Nol
Vektor nol adalah vektor hasil penjumlahan beberapa buah vektor yang hasilnya nol. Sebagai contoh, lima buah vektor, A, B, C, D, dan E, menghasilkan resultan sama dengan nol maka secara matematis ditulis A + B + C + D + E = 0 Dengan menggunakan metode poligon, secara grafis vektor-vektor tersebut diperlihatkan seperti pada Gambar 2.11. Perhatikan bahwa ujung vektor terakhir (vektor E) bertemu kembali dengan titik pangkal vektor pertama (vektor A).

 C Menjumlahkan Vektor dengan Metode Uraian
Dalam beberapa kasus, seringkali Anda menjumlahkan beberapa vektor yang lebih dari dua buah. Secara grafis, metode yang digunakan adalah metode poligon, seperti yang telah disinggung sebelumnya. Akan tetapi, bagaimanakah cara menentukan besar dan arah vektor resultannya? Salah satu metode yang digunakan adalah metode uraian, seperti yang akan di bahas pada sub-subbab berikut ini.

1. Menguraikan Vektor Menjadi Vektor Komponennya
Sebuah vektor dapat diuraikan menjadi dua buah vektor yang saling tegak lurus. Vektor-vektor baru hasil uraian disebut vektor-vektor komponen. Ketika sebuah vektor telah diuraikan menjadi vektor-vektor komponennya, vektor tersebut dianggap tidak ada karena telah diwakili oleh vektor-vektor komponennya. Sebagai contoh, ketika Anda menguraikan sekarung beras 50 kg menjadi dua karung dengan masing-masing 20 kg dan 30 kg, apakah karung yang berisi 50 kg tetap ada?

Gambar 2.12 memperlihatkan sebuah vektor A yang diuraikan menjadi dua buah vektor komponen, masing-masing berada pada sumbu-x dan sumbu-y. Ax adalah komponen vektor A pada sumbu-x dan Ay adalah komponen vektor A pada sumbu-y. Dengan mengingat definisi sin θ  dan cos θ dari trigonometri, besar setiap komponen vektor A dapat ditulis sebagai berikut.
Sementara itu, dengan menggunakan Dalil Pythagoras diperoleh hubungan
Selanjutnya, hubungan antara Ax dan Ay diberikan oleh

2. Menjumlahkan Vektor Melalui Vektor-Vektor Komponennya
Menjumlahkan sejumlah vektor dapat dilakukan dengan menguraikan setiap vektor menjadi komponen-komponennya ke sumbu-x dan sumbu-y pada koordinat kartesius. Metode seperti ini disebut metode uraian.
Berikut adalah tahapan-tahapan untuk mencari besar dan arah vektor resultan dengan metode uraian.
  • Buat koordinat kartesius x-y.
  • Letakkan titik tangkap semua vektor pada titik asal (0,0). Hati-hati, arah vektor tidak boleh berubah.
  • Uraikan setiap vektor, yang tidak berimpit dengan sumbu-x atau sumbu-y,menjadi komponen-komponennya pada sumbu-x dan sumbu-y.
  • Tentukanlah resultan vektor-vektor komponen pada setiap sumbu,misalnya
    ∑Rx= resultan vektor-vektor komponen pada sumbu-x.
    ∑Ry =resultan vektor-vektor komponen pada sumbu-y.
  • Besar vektor resultannya

dan arahnya terhadap sumbu-x positif
Demikianlah Materi Fisika SMA Kelas X tentang Vektor  semoga bermanfaat.

Sumber:
Aip Saripuddin, dkk () Praktis Belajar Fisika Kelas X SMA. Jakarta: Pusat Perbukuan

Selasa, 08 Agustus 2017

Materi Kimia Kelas X: Perhitungan Kimia

IPA-Area; Setelah mempelajari hukum Gay-Lussac yang menjelaskan pengukuran gas-gas yang bereaksi dan hasil reaksi, kali ini akan dibahas hipotesis Avogadro yang menghubungkan antara volume gas dan jumlah molekul gas jika diukur pada suhu dan tekanan yang sama. Materi hukum-hukum dasar kimia yang telah dibahas sebelumnya akan diterapkan dalam perhitungan kimia berikut. Untuk lebih mendalami perhitungan kimia, berikut akan dibahas tentang mol dan hubungannya dengan massa, volume dan jumlah partikel, kemudian dilanjutkan kadar zat, rumus empiris, rumus molekul, garam hidrat dan pereaksi pembatas.



PERHITUNGAN KIMIA

A. Hipotesis Avogadro
Tahun 1811 Amadeo Avogadro menjelaskan Hukum Gay-Lussac  dengan hipotesis yang kemudian dikenal sebagai teori Avogadro. Dalam teorinya, Avogadro menjelaskan bahwa:
Gas-gas yang mempunyai volume sama pada suhu dan
tekanan yang sama mempunyai jumlah molekul sama.
Contoh
1 Volume H2 (g) + 1 Volume Cl2 (g) --> 2 Volume HCl (g)
misalkan setiap 1 bagian volume gas mempunya x molekul gas tersebut, maka:
x molekul H2 (g) + x molekul Cl2 (g) --> 2x molekul HCl (g)
persamaan reaksi diatas dapat ditulis:
 H2 (g) + Cl2 (g) --> 2 HCl (g)
perbandingan volume H2 (g) : Cl2 (g) : 2 HCl (g) = 1 volume : 1 volume : 2 volume = 1: 1: 2

Jadi, dapat disimpulkan bahwa pada suhu dan tekanan yang sama:
perbandingan volume = perbandingan molekul = perbandingan koefisien

B. Mol
Kamu tentu pernah mendengar satuan dosin, gros, rim, atau kodi untuk menyatakan jumlah benda. Banyaknya partikel dinyatakan dalam satuan mol.

Satuan mol sekarang dinyatakan sebagai jumlah partikel (atom, molekul, atau ion) dalam suatu zat. Para ahli sepakat bahwa satu mol zat mengandung jumlah partikel  yang sama dengan jumlah partikel dalam 12,0 gram isotop C-12 yakni 6,02 x 10^23 partikel. Jumlah partikel ini disebut Bilangan Avogadro (NA = Number Avogadro) atau dalam bahasa Jerman Bilangan Loschmidt (L). Jadi, definisi satu mol adalah sebagai berikut.
Satu mol zat menyatakan banyaknya zat yang mengandung jumlah partikel yang sama dengan jumlah partikel dalam 12,0 gram isotop C-12.
  • Hubungan mol dengan jumlah partikel
Hubungan mol dengan jumlah partikel dapat dirumuskan: kuantitas (dalam mol) = Jumlah Partikel/NA atau  jumlah partikel = mol x NA
  • Hubungan mol dengan massa
Sebelum membahas hubungan mol dengan massa terlebih dahulu akan diperkenalkan Massa Atom Relatif dan Massa Molekul Relatif.
a. Massa Atom Relatif (Ar)
IUPAC telah menetapkan 1 sma = 1/12 massa satu atom C-12 isotop Atom H mempunyai kerapatan 8,400% dari kerapatan  C-12. Jadi, massa atom H = 0,08400  12,00 sma = 1,008 sma. Dari perhitungan yang sama kita bisa mengetahui massa atom O = 16,00 sma. Demikian juga massa atom unsur-unsur yang lain.

Massa Atom Relatif (Ar) adalah perbandingan massa rata-rata suatu atom unsur terhadap 1/12 massa satu atom isotop C-12.

Di alam umumnya unsur terdiri atas campuran isotop, sehingga massa atomnya diambil rata-rata dari campuran isotopnya.

b. Massa Molekul Relatif (Mr)
Massa Molekul Relatif (Mr) adalah perbandingan massa rata-rata satu molekul suatu senyawa terhadap massa 1 atom isotop C-12. Berdasarkan pengertian molekul yang menyatakan bahwa molekul merupakan gabungan dari atomatomnya, maka Mr  merupakan jumlah A  atom-atom penyusunnya.

c. Massa Molar
Massa molar menyatakan massa yang dimiliki oleh 1 mol zat, yang besarnya sama dengan Ar atau Mr Untuk unsur: 1 mol unsur = Ar ram, maka dapat dirumuskan:


Untuk senyawa:
1 mol senyawa = Mr gram, maka dapat dirumuskan:

  • Hubungan mol dengan volume
a. Gas pada keadaan standar
Pengukuran kuantitas gas tergantung suhu dan tekanan gas. Jika gas diukur pada keadaan standar, maka volumenya disebut volume molar. dengan persamaan gas ideal: 

P = tekanan = 1 atm
n = mol = 1 mol gas
T = suhu dalam Kelvin = 273 K
R = tetapan gas = 0,082 liter atm/mol K

Maka:
P V = nRT
1  V =1  0,082  273
V = 22,389
V = 22,4 liter
Jadi, volume standar = Vstp = 22,4 liter.
Dapat dirumuskan:          

n =  jumlah mol
Vm = Vstp volume molar

b. Gas pada keadaan nonstandar
Jika volume gas diukur pada keadaan ATP (Ambient Temperature and Pressure) atau lebih dikenal keadaan non–STP maka menggunakan rumus:
PV = nRT
P = tekanan, satuan P adalah atmosfer (atm)
V = volume, satuan V adalah liter
n = mol, satuan n adalah mol
R = tetapan gas = 0,082 liter atm mol^-1 K^-1
T = suhu, satuan T adalah Kelvin (K)
  • Perhitungan kimia dalam reaksi kimia
Pada materi sebelumnya telah dijelaskan bahwa perbandingan koefisien menyatakan perbandingan jumlah partikel dan perbandingan volume, sedangkan mol merupakan jumlah partikel dibagi bilangan Avogadro. Perbandingan koefisien menyatakan perbandingan jumlah partikel, maka perbandingan koefisien juga merupakan perbandingan mol. Jadi, dapat disimpulkan bahwa:
Perbandingan koefisien = perbandingan volume
               = perbandingan jumlah partikel
               = perbandingan mol
  • Pereaksi pembatas
Jika di dalam sebuah kotak tersedia 6 mur dan 10 baut, maka kita dapat membuat 6 pasang mur-baut. Baut tersisa 4 buah, sedangkan mur telah habis.

Dalam reaksi kimia, jika perbandingan mol zat-zat pereaksi tidak sama dengan perbandingan koefisiennya, maka ada pereaksi yang habis terlebih dulu. Pereaksi seperti ini disebut pereaksi pembatas.

C. Kadar Zat
Pada saat adikmu sakit panas, ibumu menyuruh membeli alkohol 70% di apotik. Apakah kamu tahu apa artinya alkohol 70%? Maksudnya dalam 100 mL larutan mengandung 70 mL alkohol dan 30 mL air. Begitu pula jika kamu membeli suatu produk makanan kemasan yang mengandung vitamin C 1%. Maksudnya dalam 100 gram makanan mengandung 1 gram vitamin C.

Kadar zat umumnya dinyatakan dalam persen massa (% massa). Untuk mendapatkan persen massa dapat menggunakan rumus:


D. Rumus Empiris dan Rumus Molekul
Rumus kimia dibagi dua, yaitu rumus empiris dan rumus molekul. Rumus empiris adalah rumus kimia yang menggambarkan perbandingan mol terkecil dari atom-atom penyusun senyawa. Salah satu cara menentukan rumus empiris dan rumus molekul dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut.
Persen massa -->  mol setiap unsur --> perbandingan mol dari
unsur-unsur --> rumus empiris ----->  rumus molekul.
Rumus molekul adalah rumus sebenarnya dari suatu senyawa. Rumus molekul dapat ditentukan jika massa molekul relatif diketahui.

E. Garam Hidrat
Kamu tentu pernah mendengar gips (CaSO42HO) yang digunakan untuk menyambung tulang atau garam inggris/garam epsom (MgSO47H2O) yang digunakan untuk obat pencuci perut. Kedua senyawa tersebut merupakan contoh garam hidrat. 

Garam hidrat adalah garam yang mengikat air. Jika garam hidrat melepaskan air kristal yang terikat disebut garam anhidrat. Cara mencari jumlah air kristal yang terikat pada garam hidrat adalah dengan rumus:

Semoga materi kimia kelas X tentang perhitungan kimia dapat bermanfaat.
Sumber:
Ari Harnanto & Ruminten. (2009). Kimia Untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan